Tentang Korean Beauty Product a.k.a K-Beauty

Kemasannya super lucu XD

Yang di bawah ini bahkan bentuknya telur. Udah kaya di harvest moon aja sampai ada telur emas πŸ˜€

3

 

“IF SNAIL CREAM and sheet masks are already part of your beauty routine, congratulations: You’re officially on the cutting edge of beauty. Now please step aside while the other 99% of us catch up to the K-Beauty trend.”

(sumber: K-Beauty: The Exhausting Skin-Care Regimen That May Be Worth the Effort )

Berawal dari iseng-iseng baca artikel, saya menemukan artikel yang membahas tentang investor barat yang ingin berinvestasi ke perusahaan kosmetik korea atau yang sering disebut “K-Beauty”. Sebelumnya, trend K-beauty ini udah terlihat cukup lama. Sering melihat orang yang suka nitip produk kecantikan Korea ketika ada temennya yang pergi ke sana. Saat itu saya penasaran, “kenapa harus beli sampai ke Korea segala?” Saya sendiri bukan orang yang suka pakai banyak skincare (cuma sabun cuci muka, sunscreen, sama krim dari dokter buat kalau pipinya putih-putih karena berenang), tapi karena dunia kecantikan lekat dengan kaum hawa, saya pun jadi penasaran dengan si K-beauty ini.

Ini beberapa artikel yang saya baca tentang K-beauty:

Mary Schook, licensed aesthetician and owner of MS Apothecary, estimates this competitive atmosphere puts Korean beauty products 12 to 14 years ahead of the U.S.

Even more hyped than the products themselves, however, is the ultra-elaborate K-Beauty skin-care regimen espoused by popular websites like Soko Glam and Peach & Lily, both of which are run by Korean Americans. Incorporating up to 10 (and sometimes more) steps, the typical regimen kicks off with a β€œdual cleansing” ritual (via oil- and water-based products), winds its way through a series of sheet masks, essences, serums and rich moisturizers, and wraps up with SPF 35 sunscreen. At night, you swap out the sunscreen for a thick, gloppy β€œsleep cream.”

Yep, stepnya banyak banget, katanya sih buat pemakaiannya memang dengan teknik layering gitu. Bahkan menurut salah satu artikel di atas, satu orang bisa pakai 17 produk K-beauty buat skincare. 17 produk. Setiap hari.

Many of these beautifiers are laced with outrΓ© ingredients such as snail mucin, culled from the gooey substance snails leave in their wake and said to boost cell regeneration; bee venom (an anti-inflammatory β€œfaux-tox” alleged to relax facial muscles); moisturizing starfish extract; and firming-and-tightening pig collagen.

K-beauty menggunakan bahan-bahan yang ga biasa buat perawatan. Perawatan muka loh ya atau skincare, belum sampai make-up. Untuk yang ingin pakai produk kecantikan Korea, terutama yang muslim, tetap harus berhati-hati dengan kandungan bahannya, harus dicari tahu halal atau tidaknya.

Setelah membaca artikel-artikel tadi ternyata memang teknologi di sana untuk bidang kecantikan udah maju banget, mereka bisa membuat produk yang beberapa kali lebih bagus dari produk lainnya. Jadi, menurut saya, wajar aja kalau orang-orang sampai nitip make up Korea.

Beberapa hari yang lalu saya juga mengobrol dengan Dhila (teman dari SMA yang menempuh kuliah kedokteran di UGM) tentang perawatan kulit. Pas banget Dhila juga baru saja melewati stase kulit, saya jadi dapet informasi dari kesehatan kulit, tentang pentingnya pakai sunscreen, menghindari keluar di jam-jam yang sinar mataharinya ga bagus (setelah jam 10 hingga sore) dan harus minum air putih kalau bisa lebih dari 2L sehari biar kulitnya ga kering (ini kerasa banget efeknya di saya yang kulitnya kering).

Mengutip dari postingan blognya Dhila berjudul yang “The Beauty“,

Berdasarkan diskusi saat saya kuliah, cantik adalah sebuah konstruksi sosial. Image cantik adalah sebuah pandangan yang terbentuk dari lingkungan sosial kita.

Sayangnya, terkadang kita lupa bahwa setiap trend yang berkembang di masyarakat, pasti memiliki akibat untuk masyarakat itu sendiri, baik itu akibat negatif atau positif.

Oke, sekian dulu postingan kali ini, sampai bertemu di postingan berikutnya. Terima kasih sudah membaca πŸ™‚

*Fyuh, akhirnya ngeblog juga haha*

Advertisements

Beauty Technology

I found this today and this is very cool!

Title: Beauty Technology: Could your skin become an interface?

Even though the billion dollars global beauty business market is mostly supported by women and 4 in 5 women wear makeup everyday, beauty products still have not been thoroughly explored in relation to their use as wearable computers. In this talk, we will explore how to disrupt this frontier by placing technology directly on the body surface by embedding electronics into cosmetics. In this way, just like magic, the body becomes an interactive platform with seamless technology on one’s skin, fingernails and hair, in forms like Tech Nails, FX e-makeup and Conductive Eyelashes.

About Katia:

Katia Vega is a Beauty Tech Designer. Inspired by invisible computing and wearables, she proposes novel ways to move from traditional to interactive cosmetics. Currently, sheΒ is a postdoc at the Responsive Environments Group at MIT Media Lab (USA). She got her PhD and master degree at PUC-Rio (Brazil) and received a BS from UNMSM (Peru). She was a Research Assistant at HKBU (Hong Kong).Β Her work was covered by New Scientist, Wired, Discovery, CNN, PSFK and others.

katiavega.com

source:Β http://amt.parsons.edu/blog/katia-vega-lecture-beauty-technology-could-your-skin-become-an-interface/